Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan. Dengan semangat dan harapan besar, saya jalankan bisnis itu di sela-sela pekerjaan sebagai pegawai. Awalnya saya pikir saya bisa mengatur semuanya — pekerjaan utama, keluarga, dan usaha. Tapi kenyataan tidak selalu semudah rencana.
Setiap 2 hari, saya harus
menempuh perjalanan pulang pergi sejauh 110 km antara tempat kerja dan
Banjarbaru. Perjalanan itu menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam, belum termasuk
kemacetan atau urusan mendadak lainnya. Di sisi lain, di rumah, saya punya
tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ada anak-anak yang butuh perhatian,
pasangan yang perlu didukung, dan rumah yang tak bisa diabaikan.
Semakin hari, saya mulai
merasa tubuh dan pikiran terkuras habis. Pekerjaan utama mulai terganggu,
usaha saya tak terurus, dan waktu bersama keluarga pun berkurang drastis. Saya
mulai sadar bahwa saya sedang memaksakan sesuatu yang belum mampu saya tangani
dengan seimbang.
Akhirnya, dengan berat
hati, saya memutuskan untuk menutup sementara usaha saya. Bukan
karena saya menyerah, tapi karena saya tahu, saat ini prioritas hidup adalah
menjaga stabilitas dan kesehatan — baik fisik, mental, maupun hubungan dengan
keluarga.
Usaha itu bukan akhir
dari segalanya. Saya anggap ini sebagai jeda, bukan titik akhir. Saya percaya,
akan tiba waktunya ketika saya bisa kembali membangunnya — dengan perencanaan
yang lebih matang, sistem yang lebih baik, dan kesiapan yang lebih kuat.
Untuk sekarang, saya belajar menerima bahwa berhenti sejenak bukan berarti gagal. Kadang, kita memang perlu mengalah hari ini agar bisa menang di hari esok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar